NEWS & EVENT


Sudah Saatnya Melirik Hunian Dengan Transportasi Massal

Sudah Saatnya Melirik Hunian Dengan Transportasi Massal

Sudah semenjak satu bulan ke belakang para netizen heboh oleh berita kalau udara di Jakarta semakin memburuk, sampai hari ini pun udara ibu kota negara Indonesia menduduki urutan  pertama dari daftar kota dengan udara paling buruk berdasarkan skor AirVisual. Terhitung pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2019, indeks kualitas udara atau air quality index Jakarta berada di angka 159. Di atas Uzbekistan dengan indeks kualitas udara 157 disusul Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara 155.

Melihat fenomena ini, pemerintah DKI Jakarta melakukan penyelidikan langsung ke lapangan dan menemukan dalang dari fenomena buruknya udara Jakarta ada 3 faktor yaitu polusi dari kendaraan bermotor sebanyak 75%, kemudian pembangkit listrik dan pemanas sebanyak 9%, dan pembakaran domestik sebanyak 8%. Melihat fakta yang ada, pemerintah DKI Jakarta kemudian mengambil beberapa langkah untuk menangani udara buruk yang tengah melanda Jakarta. Salah satunya adalah dengan memperluas wilayah ganjil genap.

Baca juga: Supermarket Bangunan Lengkapi Fasilitas Komersial di Jalur Transyogi

Selain penambahan rute ganjil genap sebanyak 16 rute, pemerintah DKI Jakarta juga memperpanjang durasi ganjil genap dari 06.00 – 10.00 menjadi 06.00 – 21.00. Artinya peredaran kendaraan pribadi di Jakarta sudah semakin dibatasi, lalu bagaimana nasib orang-orang yang tinggal di sekitaran Jakarta? Jawabannya adalah transit oriented development. Artinya ke depan nanti perkembangan dan perencanaan tata kota akan diintegrasikan dengan sistem transportasi massal dengan pola transit. Jadi seluruh sistem transportasi massal akan saling terkoneksi dan saling menopang, dari transportasi massal kapasitas tinggi berbasis rel sampai angkutan umum pengumpan.

Baca juga: Beli Rumah Baru atau Bekas? Apa Untung Ruginya?

Diharapkan dengan solusi ini maka tidak hanya dapat mengurangi polusi udara di Jakarta tetapi juga bisa mengatasi kemacetan yang kian hari kian meresahkan. Lebih lanjut lagi, pembangunan berbasis TOD juga memiliki misi untuk mendorong, memfasilitasi, dan memprioritaskan penyediaan fasilitas publik yang nantinya akan meningkatkan aksesibilitas para penghuni kawasan hunian dan pengguna transportasi. Maka dari itu, kini saatnya melirik hunian yang dekat dengan fasilitas trasnportasi massal seperti MRT, LRT, ataupun Transjakarta.

Baca juga: Lewat Promo “Ashiaaap!”, Harvest City Ajak Anak Muda Untuk Punya Properti

Untuk koridor Timur, Harvest City merupakan kota mandiri seluas 1.350 hektar dengan akses transportasi massal seperti LRT Cibubur, Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway, dan juga JR Connexion. Bisa sudah begini maka perluasan ganji genap di Jakarta tentu tidak akan membawa dampak signifikan karena ada pilihan moda transportasi yang cepat dan nyaman sebagai gantinya. Khusus untuk LRT, Harvest City menyediakan juga Harvest City Shuttle yang merupakan feeder bus area Cibubur. Salah satu titik pemberhentiannya di Cibubur Junction yang mana merupakan lokasi stasiun LRT dan juga Transjakarta 7C tujuan BKN Cawang – Cibubur Juntion (masuk jaringan transit Transjakarta Cawang).

Seiring dengan konsep pembangunan berbasis TOD, Harvest City juga memiliki fasilitas publik berskala kota untuk meningkatkan kualitas hidup para penghuninya.

Untuk transportasi, Harvest City dilengkapi shelter feeder bus JR Connexion. Kemudian, tersedia juga Narma Toserba dan gerai KFC yang bisa dijadikan sebagai meeting point. Bagi keluarga, Harvest City juga menyediakan fasilitas restaurant Saung Apung, Hobbit Hills, dan Water Joy. Dalam hal gaya hidup, Harvest City memiliki fasilitas Festival Oriental dan Harvest Walk. Semua yang dibutuhkan untuk kenyamanan hidup bisa didapatkan di Harvest City, ditambah lagi investasi yang menjanjikan. Pergerakan harga hunian dekat fasilitas transportasi massal bergerak lebih cepat seiring dengan permintaan yang terus meroket.